Ku
bahagia...kau telah terlahir di dunia...
Dan
kau ada...diantara milyaran manusia...
Dan
ku bisa...dengan radarku...menemukanmu...
Akhir-akhir ini aku mulai menyukai lagu itu. Aku
sering menyanyikannya di teras belakang rumahku saat masih di Semarang. Hari-hariku
selalu ditemani sebuah gitar tuaku. Bahkan,aku les gitar juga dengan gitar
tuaku ini. Pokoknya aku dan gitarku ini tak terpisahkan deh.
Ngomong-ngomong dengan gitar tuaku ini,ada sebuah
kisah mengapa aku sangat menyayanginya. Gitar ini merupakan pemberian temanku
waktu kecil saat berlibur di Banjarmasin 8 tahun yang lalu. Namanya Akhmad,ya
cuma itu. Tak ada embel-embel kata lagi di belakang namanya. Tapi aku
memanggilnya dengan Amat,dia orang asli Banjar. Yang lucunya kalau dia bicara
itu pasti bahasanya campur-campur. Dan juga karena dialah,aku menjadi sedikit
mengerti dengan bahasa Banjar.
Aku sering memperhatikannya,dia selalu membawa gitar
di pundaknya. Padahal dia bilang sendiri kalau dia itu tidak bisa bermain gitar
sama sekali. Mengingat semua itu membuatku tertawa geli. Aku pun termenung dan
kembali teringat semua percakapan kami dulu.
“Amaaat ! ngapain sih kamu bawa-bawa gitar itu terus
??? Tidak keberatan ya ? badan kamu kan kecil ?” tanyaku.
“Kada papa,supaya
keren kayatu nah,” katanya sambil
nyengir dan memetik senar gitarnya asal-asalan
Sejak hari itu,aku semakin akrab dengannya. Wajahnya
yang lucu dan menggemaskan seperti Baek Eun Joo di serial Playfull Kiss
membuatku semakin menyukainya. Oke,mungkin ini yang namanya cinta monyet tapi
inilah adanya. Ketika melihat senyumnya,aku merasa kembang api meletup-letup di
atas kepalaku. Sehari saja tak melihatnya dan tak bermain dengannya saja,awan
mendung seakan menyelimuti hatiku. Tak bisa kubayangkan jika nanti suatu saat
aku akan terpisah dengannya.
Hingga pada akhirnya di hari terakhirku berlibur di
Banjarmasin. Kata mama,setelah ini aku tidak akan lagi berlibur ke sini. Semua
ini dikarenakan beberapa hari yang lalu,nenek meninggal. Sehingga tak ada lagi
alasanku untuk berlibur ke sini. Sedangkan,disini cuma rumah nenek satu-satunya
yang menjadi tujuanku untuk berlibur. Padahal jika saja aku bisa,aku ingin
tinggal selamanya disini. Aku tidak mau berpisah dengan temanku satu-satunya di
sini. Aku jadi sedih sekali saat itu.
“Mat,aku mau balik ke Semarang sore ini. Dan mungkin
tidak akan kembali lagi ke sini. Aku juga sebenarnya tidak mau tapi mau
bagaimana lagi ?” kataku sambil terus cemberut.
“Sayang banarlah,padahal masih handak bemainan wan ikam,put ae...” kata dia sambil menatap serius
gitarnya.
Aku terisak saat itu. Tak mampu membendung air
mataku yang cepat sekali mengalir. Tapi aku buru-buru menyeka air mataku,malu
dilihat oleh Amat. Dia menatapku dan tiba-tiba menyodorkan gitarnya tersebut
kepadaku.
“Untuk apa ???” tanyaku heran.
“Gasan
kenang-kenangan,kalau kita bertemu kembali saat dewasa nanti. Walaupun Putri
tidak bisa kembali lagi. Jangan kada ingat
dengan Amat ya ? Anggap saja gitar ini teman Putri,gitar ini gitar kesayangan
Amat tahu kada ? Jadi,jaga
baik-baiklah...”
“Amat....” gumamku sambil terharu. Aku pun
memasangkan headphone kesayanganku ke
telinganya. “Jaga ini baik-baik,nanti kalo Amat punya handphone,bisa
denger lagu pakai ini. Ini juga benda kesayangan Putri. Jaga baik-baik juga ya
??? Oke ???” kataku sambil menahan tangis.
“Baiklah,Amat bulik
dulu ke rumah lah ? Ngalih kaina mama
mencarii Amat. Oh ya ? Amat pasti akan merindukan Putri,daah !” katanya sambil
pergi meninggalkanku.
Aku masih bisa melihat punggungnya. Itu terakhir
kali aku melihatnya. Sungguh,aku sangat merindukannya. Apa ya kabar dia
sekarang ? Apa dia baik-baik saja ? Dia seperti apa ya sekarang ? Apa masih
menggemaskan seperti dulu ? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Oleh karena
itu,aku balik ke Banjarmasin dan memutuskan untuk kuliah disana. Bagusnya
lagi,mama mengizinkanku untuk liburan ke sini. Amat ! Kita akan bertemu
sebentar lagi. Tapi,aku sudah lupa jalan-jalan di Banjarmasin. Bagaimana aku
bisa menemukannya di antara ribuan manusia yang ada disini. Kemungkinannya
sangat kecil untukku.
“Puuut ! Jangan melamun terus,nanti kesambet lho
baru tau rasa !!!” teriak mama.
“Iyaa,Ma. Ini juga udah selesai kok main gitarnya,”
jawabku sambil tertawa kecil. Seketika itu juga,lamunanku tentang Amat pun
buyar. Tiada hari tanpa merindukannya. 7 tahun penantianku di Semarang,semoga
saja tidak sia-sia.
“Menurut mama,apa aku bisa menemukan Amat ??? Aku
takut...”
“Percayalah,usahamu pasti tidak sia-sia. Dia kan
teman kecilmu dulu. Walaupun kalian pasti
lupa wajah masing-masing. Mama yakin kok kamu pasti bisa menemukannya.
Oke ? jangan nyerah !” kata mama. Aku pun tersenyum.
Sejak kemarin,aku sudah berkeliling Banjarmasin
untuk mencarinya sampai tersesat di Pasar Sudimampir Jaya. Dan hari ini,aku
memutuskan untuk mencarinya dengan gitar tua yang tersimpan di tas gitar yang
ku letakkan di pundakku. Aku akan mencoba mencarinya ke Duta Mall. Dan itu
tempat terakhir yang akan ku kunjungi. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya.
Tak sengaja aku melihat seorang laki-laki sedang
berjalan dengan headphone yang sama persis dengan yang ku beri ke Amat. Aku pun
mengejar laki-laki itu. Aku tidak mau kehilangannya lagi. Tidak ! Setelah mengejarnya
sampai ke Mount Everest,akhirnya aku pun menemukannya.
“Amat ?! Kamu Amat,kan ? Teman kecilku dulu ? Ini
Putri,teman kecilmu dulu !” kataku sangat antusias.
“Sembarangan ! Namaku Farrel bukan Amat,aku juga
tidak kenal denganmu ! Menjauhlah dariku...” bentak orang itu sambil
meninggalkanku. Aku hanya menghela napas. Hampir saja putus asa kalau saja ide
itu tiba-tiba saja muncul di otakku. Aku pun melangkah menuju aula Duta Mall
yang sedang mengadakan sebuah acara musik amal. Setelah meminta izin,aku pun
naik ke panggung dan mengeluarkan gitarku. Saat itu,hatiku berdebar sangat
kencang. Entah ini berhasil atau tidak. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk
bisa menemukannya di tempat ini.
“Lagu ini untuk teman kecilku yang bernama Amat.
Dimanapun kau berada,ketahuilah aku sangat merindukanmu. Semoga kau
mendengarnya,” kataku dengan suara bergetar dan mulai memetik gitar tua
kesayanganku itu.
Perahu
kertasku kan melaju...membawa surat cinta bagimu...
Kata-kata
yang sedikit gila...tapi ini adanya...
Perahu
kertas mengingatkanku...betapa ajaib hidup ini...
Mencari-cari
tambatan hati,kau sahabatku sendiri...
Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut,semua
orang riuh bertepuk tangan. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda Amat. Aku pun
menuruni panggung dengan raut sedih. Sia-sia saja semua usahaku. Aku pun
kembali meneruskan langkahku kemana saja kaki ini mau melangkah. Tiba-tiba ada
yang menepuk pundakku,aku pun langsung menoleh.
“Putri,suaramu bagus sekali ! Boleh aku minta tanda
tangan ???” tanya seorang laki-laki yang wajahnya sangat familiar di depanku.
Aku hanya bengong dan menatapnya tak mengerti. Dia pun mengeluarkan
headphonenya dan memperlihatkannya padaku. Sumpah ! aku sangat terkejut.
“Masih kada ingat
denganku ???” katanya ceria. “Ini aku,Amat ! Kau pasti tidak menduga bahwa anak
lucu yang selalu terlihat kebaratan
membawa gitarnya itu bisa berubah menjadi cowok tampan sepertiku,kan ?”
“Ya,tentu saja. Aku ingat denganmu...” kataku sambil
terharu. Bagaimana aku bisa melupakanmu ? Orang yang selalu menghiasi
mimpi-mimpiku di setiap malam. Selalu ku ingat jika aku sedang senang maupun
sedih. Kau tidak akan tahu betapa aku merindukanmu. Takkan pernah tahu.
“Hei ! Jangan bengong,makan yuk ! Lapar niih ! Kamu
hutang cerita sama aku selama 7 tahun. Ceritakan semuanya ?! Okee ???” katanya
sambil tersenyum kepadaku. Aku pun menganggukkan kepalaku dan pergi bersamanya.
Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan persahabatan ini,yang penting
sekarang aku telah menemukannya. J
Selesai
Keterangan kosa kata Bahasa Banjar:
Kada
papa : Tidak apa-apa
Kayatu : Seperti itu
Handak
: Ingin
Bemainan
: Bermainan
Wan
: Dengan
Ikam : Kamu
Gasan : Untuk
Kada
: Tidak
Bulik : Pulang
Ngalih
: Susah
Kaina : Nanti
Kebaratan : Keberatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar