winnie

Rabu, 03 Oktober 2012

Melodi Sang Gitar Tua


Ku bahagia...kau telah terlahir di dunia...

Dan kau ada...diantara milyaran manusia...

Dan ku bisa...dengan radarku...menemukanmu...

Akhir-akhir ini aku mulai menyukai lagu itu. Aku sering menyanyikannya di teras belakang rumahku saat masih di Semarang. Hari-hariku selalu ditemani sebuah gitar tuaku. Bahkan,aku les gitar juga dengan gitar tuaku ini. Pokoknya aku dan gitarku ini tak terpisahkan deh.

Ngomong-ngomong dengan gitar tuaku ini,ada sebuah kisah mengapa aku sangat menyayanginya. Gitar ini merupakan pemberian temanku waktu kecil saat berlibur di Banjarmasin 8 tahun yang lalu. Namanya Akhmad,ya cuma itu. Tak ada embel-embel kata lagi di belakang namanya. Tapi aku memanggilnya dengan Amat,dia orang asli Banjar. Yang lucunya kalau dia bicara itu pasti bahasanya campur-campur. Dan juga karena dialah,aku menjadi sedikit mengerti dengan bahasa Banjar.

Aku sering memperhatikannya,dia selalu membawa gitar di pundaknya. Padahal dia bilang sendiri kalau dia itu tidak bisa bermain gitar sama sekali. Mengingat semua itu membuatku tertawa geli. Aku pun termenung dan kembali teringat semua percakapan kami dulu.

“Amaaat ! ngapain sih kamu bawa-bawa gitar itu terus ??? Tidak keberatan ya ? badan kamu kan kecil ?” tanyaku.

Kada papa,supaya keren kayatu nah,” katanya sambil nyengir dan memetik senar gitarnya asal-asalan

Sejak hari itu,aku semakin akrab dengannya. Wajahnya yang lucu dan menggemaskan seperti Baek Eun Joo di serial Playfull Kiss membuatku semakin menyukainya. Oke,mungkin ini yang namanya cinta monyet tapi inilah adanya. Ketika melihat senyumnya,aku merasa kembang api meletup-letup di atas kepalaku. Sehari saja tak melihatnya dan tak bermain dengannya saja,awan mendung seakan menyelimuti hatiku. Tak bisa kubayangkan jika nanti suatu saat aku akan terpisah dengannya.

Hingga pada akhirnya di hari terakhirku berlibur di Banjarmasin. Kata mama,setelah ini aku tidak akan lagi berlibur ke sini. Semua ini dikarenakan beberapa hari yang lalu,nenek meninggal. Sehingga tak ada lagi alasanku untuk berlibur ke sini. Sedangkan,disini cuma rumah nenek satu-satunya yang menjadi tujuanku untuk berlibur. Padahal jika saja aku bisa,aku ingin tinggal selamanya disini. Aku tidak mau berpisah dengan temanku satu-satunya di sini. Aku jadi sedih sekali saat itu.

“Mat,aku mau balik ke Semarang sore ini. Dan mungkin tidak akan kembali lagi ke sini. Aku juga sebenarnya tidak mau tapi mau bagaimana lagi ?” kataku sambil terus cemberut.

“Sayang banarlah,padahal masih handak bemainan wan ikam,put ae...” kata dia sambil menatap serius gitarnya.

Aku terisak saat itu. Tak mampu membendung air mataku yang cepat sekali mengalir. Tapi aku buru-buru menyeka air mataku,malu dilihat oleh Amat. Dia menatapku dan tiba-tiba menyodorkan gitarnya tersebut kepadaku.

“Untuk apa ???” tanyaku heran.

Gasan kenang-kenangan,kalau kita bertemu kembali saat dewasa nanti. Walaupun Putri tidak bisa kembali lagi. Jangan kada ingat dengan Amat ya ? Anggap saja gitar ini teman Putri,gitar ini gitar kesayangan Amat tahu kada ? Jadi,jaga baik-baiklah...”

“Amat....” gumamku sambil terharu. Aku pun memasangkan headphone kesayanganku ke  telinganya. “Jaga ini baik-baik,nanti kalo Amat punya handphone,bisa denger lagu pakai ini. Ini juga benda kesayangan Putri. Jaga baik-baik juga ya ??? Oke ???” kataku sambil menahan tangis.

“Baiklah,Amat bulik dulu ke rumah lah ? Ngalih kaina mama mencarii Amat. Oh ya ? Amat pasti akan merindukan Putri,daah !” katanya sambil pergi meninggalkanku. 

Aku masih bisa melihat punggungnya. Itu terakhir kali aku melihatnya. Sungguh,aku sangat merindukannya. Apa ya kabar dia sekarang ? Apa dia baik-baik saja ? Dia seperti apa ya sekarang ? Apa masih menggemaskan seperti dulu ? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Oleh karena itu,aku balik ke Banjarmasin dan memutuskan untuk kuliah disana. Bagusnya lagi,mama mengizinkanku untuk liburan ke sini. Amat ! Kita akan bertemu sebentar lagi. Tapi,aku sudah lupa jalan-jalan di Banjarmasin. Bagaimana aku bisa menemukannya di antara ribuan manusia yang ada disini. Kemungkinannya sangat kecil untukku.

“Puuut ! Jangan melamun terus,nanti kesambet lho baru tau rasa !!!” teriak mama.

“Iyaa,Ma. Ini juga udah selesai kok main gitarnya,” jawabku sambil tertawa kecil. Seketika itu juga,lamunanku tentang Amat pun buyar. Tiada hari tanpa merindukannya. 7 tahun penantianku di Semarang,semoga saja tidak sia-sia.

“Menurut mama,apa aku bisa menemukan Amat ??? Aku takut...”

“Percayalah,usahamu pasti tidak sia-sia. Dia kan teman kecilmu dulu. Walaupun kalian pasti  lupa wajah masing-masing. Mama yakin kok kamu pasti bisa menemukannya. Oke ? jangan nyerah !” kata mama. Aku pun tersenyum. 
                                                             
Sejak kemarin,aku sudah berkeliling Banjarmasin untuk mencarinya sampai tersesat di Pasar Sudimampir Jaya. Dan hari ini,aku memutuskan untuk mencarinya dengan gitar tua yang tersimpan di tas gitar yang ku letakkan di pundakku. Aku akan mencoba mencarinya ke Duta Mall. Dan itu tempat terakhir yang akan ku kunjungi. Semoga saja aku bisa bertemu dengannya.

Tak sengaja aku melihat seorang laki-laki sedang berjalan dengan headphone yang sama persis dengan yang ku beri ke Amat. Aku pun mengejar laki-laki itu. Aku tidak mau kehilangannya lagi. Tidak ! Setelah mengejarnya sampai ke Mount Everest,akhirnya aku pun menemukannya.

“Amat ?! Kamu Amat,kan ? Teman kecilku dulu ? Ini Putri,teman kecilmu dulu !” kataku sangat antusias.

“Sembarangan ! Namaku Farrel bukan Amat,aku juga tidak kenal denganmu ! Menjauhlah dariku...” bentak orang itu sambil meninggalkanku. Aku hanya menghela napas. Hampir saja putus asa kalau saja ide itu tiba-tiba saja muncul di otakku. Aku pun melangkah menuju aula Duta Mall yang sedang mengadakan sebuah acara musik amal. Setelah meminta izin,aku pun naik ke panggung dan mengeluarkan gitarku. Saat itu,hatiku berdebar sangat kencang. Entah ini berhasil atau tidak. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk bisa menemukannya di tempat ini. 

“Lagu ini untuk teman kecilku yang bernama Amat. Dimanapun kau berada,ketahuilah aku sangat merindukanmu. Semoga kau mendengarnya,” kataku dengan suara bergetar dan mulai memetik gitar tua kesayanganku itu.

Perahu kertasku kan melaju...membawa surat cinta bagimu...

Kata-kata yang sedikit gila...tapi ini adanya...

Perahu kertas mengingatkanku...betapa ajaib hidup ini...

Mencari-cari tambatan hati,kau sahabatku sendiri...

Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut,semua orang riuh bertepuk tangan. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda Amat. Aku pun menuruni panggung dengan raut sedih. Sia-sia saja semua usahaku. Aku pun kembali meneruskan langkahku kemana saja kaki ini mau melangkah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku,aku pun langsung menoleh.

“Putri,suaramu bagus sekali ! Boleh aku minta tanda tangan ???” tanya seorang laki-laki yang wajahnya sangat familiar di depanku. Aku hanya bengong dan menatapnya tak mengerti. Dia pun mengeluarkan headphonenya dan memperlihatkannya padaku. Sumpah ! aku sangat terkejut.

“Masih kada ingat denganku ???” katanya ceria. “Ini aku,Amat ! Kau pasti tidak menduga bahwa anak lucu yang selalu terlihat kebaratan membawa gitarnya itu bisa berubah menjadi cowok tampan sepertiku,kan ?”

“Ya,tentu saja. Aku ingat denganmu...” kataku sambil terharu. Bagaimana aku bisa melupakanmu ? Orang yang selalu menghiasi mimpi-mimpiku di setiap malam. Selalu ku ingat jika aku sedang senang maupun sedih. Kau tidak akan tahu betapa aku merindukanmu. Takkan pernah tahu.

“Hei ! Jangan bengong,makan yuk ! Lapar niih ! Kamu hutang cerita sama aku selama 7 tahun. Ceritakan semuanya ?! Okee ???” katanya sambil tersenyum kepadaku. Aku pun menganggukkan kepalaku dan pergi bersamanya. Entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya dengan persahabatan ini,yang penting sekarang aku telah menemukannya. J

Selesai

Keterangan kosa kata Bahasa Banjar:
Kada papa                              :  Tidak apa-apa
Kayatu                                     :  Seperti itu
Handak                                   :   Ingin
Bemainan                                :  Bermainan
Wan                                         :  Dengan
Ikam                                        :  Kamu
Gasan                                      :  Untuk
Kada                                       :  Tidak
Bulik                                        :  Pulang
Ngalih                                      :  Susah
Kaina                                      :  Nanti
Kebaratan                               :  Keberatan






Tidak ada komentar:

Posting Komentar